Terpana pada si Cantik Air Terjun Pancaro Rayo, Jambi

Foto net

Air Terjun Pancaro Rayo.

POTENSI wisata alam Jambi di Sumatra memang belum banyak diketahui wisatawan. Namun tidak jauh dari Gunung Kerinci, terdapat Air Terjun Pancaro Rayo yang belum banyak diketahui. Anda akan dibuat terpesona saat melihat kecantikannya.

Tidak banyak yang mengetahui keberadaan wisata alam di Kerinci, Provinsi Jambi. Jangankan mengetahui soal wisatanya, mendengar nama Kerinci saja mungkin hanya dari nama sang atap Sumatera, Gunung Kerinci.

Padahal kabupaten yang terletak sekitar 400 km dari ibukota Provinsi Jambi ini memiliki segudang wisata alam yang sangat menarik. Salah satunya adalah air terjun Pancaro Rayo di Desa Koto Tuo, Kecamatan Keliling Danau, Kerinci.

Lokasi air terjun ini memang sedikit tersembunyi. Namanya bahkan tidak tertera di papan penunjuk jalan buatan Dinas Perhubungan. Pintu masuknya atau lebih tepat disebut gang masuk, terletak di sebelah kanan jalan jika Anda berkendara selama 15-20 menit dari Kota Sungai Penuh.

Terdapat papan penunjuk jalan sepanjang 30 cm bertuliskan ‘lorong air terjun.’ Agak bingung mencarinya, karena tulisan itu tidak terlihat dari kejauhan. Kendaraan bisa dititipkan di rumah warga dengan ongkos Rp 5.000,00 untuk sepeda motor.

Sebelum mendaki, mata akan dimanjakan dengan pemandangan hamparan sawah hingga tiba di kaki bukit. Begitu mendaki, kita bisa melihat pemandangan Danau Kerinci dari kejauhan. Lainnya kita akan berhadapan dengan jalanan menanjak dengan semak di kiri-kanan, juga pohon yang jauh dan tidak rindang.

Setelah mendaki sekitar 1 jam, Anda akan bertemu jalanan menurun yang berujung pada sebuah sungai. Di sungai ini, And bisa beristirahat sejenak, meluruskan kaki, atau mencuci muka dengan air sungai super segar.

Sungai ini dangkal, hanya sekitar semata kaki, sehingga kita hanya perlu menggulung kaki celana kalau tidak mau celananya basah. Lebarnya juga hanya sekitar 3 meter.

Jika sebelumnya kita disuguhi jalan-jalan tanah yang gersang, maka kali ini Anda akan berjalan melalui pepohonan rimbun nan teduh, menjadikan jalan setapak yang dilalui lembab. Di sini Anda akan menyeberangi tiga sungai lagi sebelum akhirnya mencapai semacam shelter yang tidak terawat. Dari shelter ini, air terjun setinggi 150 m itu sudah terlihat.

Jika ingin terus melanjutkan perjalanan hingga ke bawah air terjun, maka Anda masih harus melalui batu-batu besar. Juga menaiki tangga kayu yang dibuat oleh entah siapa.

Saya terpana melihat pemandangan yang terhampar di depan mata. Air seperti mengalir dari celah kedua tebing, lalu jatuh seperti tertumpah.

Kami pergi di musim kemarau, sehingga debit air yang jatuh tidak begitu besar. Sehingga cipratannya juga tidak cukup untuk membasahi kami. Namun sisi baiknya, jalanan yang dilalui jadi kering dan tidak licin ketika didaki.

Sebenarnya di bawah air terjun itu terdapat kolam yang bisa dipakai untuk berenang atau sekadar main air. Namun karena saya sudah terlalu kelelahan, kami berhenti sekitar 25 meter dari air terjun. Namun, begitu saja saya sudah sangat puas bisa melihat salah satu karya tangan Tuhan ini.

Begitulah, kami mencari surga di negeri yang dijuluki ‘Sekepal Tanah Surga’ ini. Semoga surga ini tetap menjadi surga di tangan orang-orang yang memang mencintainya, bukan yang mengaku cinta tetapi malah menyakiti alam. (travel.detik.com)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »