Industri Perjalanan Wisata Datangkan Devisa Rp 86 Triliun

Foto net

Asnawi Bahar.

JAKARTA – Industri perjalanan wisata (tour & travel) ditargetkan mampu mendatangkan devisa Rp 86 triliun pada 2016. Angka itu setara 50% dari total devisa yang masuk dari kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia sepanjang 2016 yang mencapai Rp 172 triliun.

“Dari total wisman yang datang ke Indonesia, 50%nya melalui Asita,” kata Ketua Umum Association of the Indonesian Tours & Travel Agencies (Asita) Asnawi Bahar kepada Investor Daily di Jakarta, baru-baru ini.

Asnawi mengungkapkan, sebagian besar wisman yang menggunakan jasa Asita berasal dari Eropa. Setidaknya, 90% wisman yang didatangkan ke Indonesia (inbound) oleh Asita berasal dari Eropa. Rata-rata dari mereka, masih menjadikan Bali sebagai destinasi utama.

“Kalau di Eropa, anggota-anggota Asita sudah bekerja sama dengan agen-agen besar di sana, sehingga semuanya melalui kami. Dan saya baru kembali dari Jepang, meneken kerja sama dengan asosiasi di sana. Di Rusia, Korea Selatan juga, mudah-mudahan kunjungan wisman dari negara-negara tersebut akan meningkat pada 2016-2017 nanti,” kata dia.

Asnawi menambahkan, pihaknya akan melakukan beberapa pembenahan, termasuk menambah fasilitas layanan online untuk setiap anggota Asita. Saat ini, ada sekitar 6.500 anggota Asita yang tersebar di seluruh Indonesia.

Asnawi melanjutkan, pihaknya juga berharap dukungan dari pemerintah untuk semakin banyak mengikutsertakan Asita pada setiap event promosi dan pameran pariwisata di luar negeri. Dengan demikian, peluang untuk menggaet lebih banyak wisman akan semakin terbuka.

“Tidak hanya itu, kami juga berharap dilibatkan dalam rencana-rencana promosi pariwisata Indonesia, sehingga kami bisa membuat paket-paket yang lebih menarik dan sejalan dengan roadmap pengembangan destinasi wisata Indonesia,” ungkap dia.

Di sisi lain, Asnawi mengakui bahwa tantangan bagi industri tour & travel lokal akan semakin berat pada tahun depan, terutama dengan hadirnya penyedia jasa akomodasi pariwisata online seperti Agoda dan Traveloka.

“Kami tidak menolak kehadiran mereka, tetapi mereka juga harus melakukan hal yang sama seperti kami, yaitu membayar pajak, mengeluarkan investasi untuk membuat kantor, memiliki izin resmi,” papar Asnawi.

Dengan demikian, kata Asnawi, persaingan akan menjadi adil. “Kami memang sudah terpengaruh, dan itu sudah menjadi ancaman. Tapi kami siap bersaing. Kami tidak minta perlindungan, hanya saja perlu dipastikan bahwa persaingan yang terjadi harus adil,” ujar dia.

Kesiapan bersaing secara adil tersebut, menurut Asnawi, akan dibuktikan dengan pembaruan teknologi di anggota-anggota Asita. Nantinya, setiap anggota Asita akan memiliki fasilitas layanan tour & travel online, sehingga bakal lebih memudahkan konsumen yang tidak sempat datang ke kantor perusahaan tour & travel yang bersangkutan.

“Jadi kami juga tida khawatir. Tetapi lebih ke bagaimana menciptakan persaingan yang sehat. Mereka harus mengurus izin yang sama, kantornya ada, investornya siapa, semua harus jelas, sama seperti perusahaan tour & travel yang sudah ada lebih dulu disini,” jelas dia.

Sebelumnya, Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya optimistis, jumlah kunjungan wisman bakal mencapai 12 juta orang dengan devisa yang dihasilkan sebesar Rp 172 triliun. Sementara untuk jumlah perjalanan wisnus diestimasi sebanyak 260 juta perjalanan dengan uang yang dibelanjakan sebesar Rp 223,6 triliun.

“Kontribusi pariwisata terhadap PDB nasional diproyeksikan meningkat menjadi 5% dari tahun ini 4,23%, dan jumlah lapangan kerja yang tercipta menjadi 11,7 juta tenaga kerja,” kata Menpar. (beritasatu.com)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »